Mencibir bahasa asing (Arab) demi terlihat 'paling Jawa', padahal atribut yang dipakai di foto itu sendiri adalah hasil akulturasi dengan budaya asing.
Secara fakta sejarah, Beskap itu merupakan adaptasi dari jas militer Belanda (Eropa), dan Blangkon adalah bentuk praktis dari Turban/Imamah Arab yang diadopsi sejak zaman Mataram Islam untuk menyelaraskan tradisi dengan syariat. Bahkan kancing baju dan celana panjang pun bukan budaya asli Jawa kuno melainkan serapan luar.
Mengklaim diri paling lokal sambil memakai atribut hasil perpaduan budaya Eropa, barat, cina, india dan Islam itu namanya kontradiksi.
Sejarah membuktikan leluhur Jawa itu cerdas karena mampu menyerap pengaruh asing (Arab, Sansekerta, Eropa) menjadi identitas baru yang luhur, bukan malah sempit pikir dan anti terhadap perkembangan zaman.
Dan paling anehnya yang menjadi sasaran kebenciannya selalu Arab bukan cina, bikan amerika, bukan eropa, bukan korea. Padahal semua itu juga budaya luar.

Posting Komentar untuk "Benci islam tapi berkedok budaya"