Bapak ini bangunnya kesiangan ?
Kok bisa bilang Syi'ah bagian dari Islam padahal sejak lama seperti MUI, bahkan jauh sebelumnya seperti KH Hasyim Asyari, Buya Hamka dan ulama besar lainnya mengingatkan bahaya Syi'ah, dan menurut mereka Syi'ah bukan bagian dari Islam,
-----------------
Diantara karya Kyai Hasyim yang mengupas masalah Syiah adalah “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, “Risalah Ahlu al-Sunnah wal Jama’ah,al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin ” dan “al-Tibyan fi Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham waal-Aqrab wa al-Akhwan”. Di ketiga kitab itu, Kyai Hasyim sangat gamblang memberikan kritik terhadap ajaran Syi’ah. Menurutnya, baik Syi’ah Imamiyah maupun Zaidiyyah adalah mazhab yang tidak benar.
Dalam kitab Muqaddimah Qanun Asasi,hal.7, Kyai Hasyim mengkritik golongan yang mencaci bahkan mengkafirkan sahabat Nabi saw. Menurutnya, orang atau kelompok yang mengecam para sahabat termasuk ahli bid’ah dan sesat. Berbagai bukti, dari dulu hingga kini, Syiah memang tidak henti hentinya memberikan cacian terhadap sahabat sahabat Nabi utama seperti Abu Bakar ash Shiddiq, Umar bin Khatab dan Usman bin Affan radhiyallahu ‘anhum
Karena itulah Kyai Hasyim kemudian menulis bantahannya dalam ketiga kitab tersebut. Dalam kitab-kitab itu ia mengutip hadits Nabi SAW tentang kecaman terhadap orang yang mencaci sahabat sahabat beliau. Nabi saw antara lain bersabda: ”Janganlah kau menyakiti aku dengan cara menyakiti ‘Aisyah”. “Janganlah kamu caci maki sahabatku. Siapa yang mencaci sahabatku, maka dia akan mendapat laknat Allah SAW, para malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima semua amalnya, baik yang wajib maupun yang sunnah”. Juga hadits nabi saw: “Apabila telah nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagiorang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan haltersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia”.
Sedang dalam kitab “al-Tibyan” Kyai Hasyim memaparkan pada hampir setiap halaman, kutipan pendapat para ulama salaf tentang keutamaan sahabat dan laknat bagi orang yang mencelanya. Diantara ulama yang banyak dikutip adalah Ibnu Hajar al Asqalani, dan al Qadli Iyyadh. Secara khusus Syaikh Hasyim mengutip hadits yang ditulis Ibnu Hajar dalam Al-Shawa’iq al-Muhriqah , yang menghimbau agar para ulama yang memiliki ilmu meluruskan penyimpangan golongan yang mencaci sahabat Nabi SAW itu.
Dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama ’, hal. 9, Kyai Hasyim, mengingatkan perlunya berpegang pada mazhab yang empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Beliau meminta agar Syiah dijauhi. Tentu saja ini sebagai peringatan bagi warga Nahdlyin untuk berhati-hati menghadapi perkembangan aliran-aliran di luar madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah, khususnya Syiah.
Garis panduan Kyai Hasyim dalam soal Syiah ini masih terus dipegang teguh oleh para Kyai di banyak pesantren besar di Indonesia. Tahun 2007 lalu, misalnya, Pesantren Sidogiri di Pasuruan – berdiri sekitar tahun 1700 M – mengeluarkan sebuah buku berjudul “Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah”? Salah satu beratnya menjalin ukhuwah antara Sunni Syiah, menurut buku ini, adalah karena kaum Syiah melanggengkan kecaman terhadap para sahabat Nabi.
(Sumber Referensi VOA Islam)
--------------------
Pendirian Hamka terhadap Syiah maupun isu Revolusi islam, ditegaskan lagi dalam artikelnya di harian Kompas tahun 1980, “Saya tetap seorang Sunni yang tak perlu berpegang pada pendapat orang Syiah dan ajaran-ajaran Ayatullah”. Beliau menasehati empat pemuda yang berencana ke Indonesia dan mengajarkan Revolusi islam Syiah, “Boleh datang sebagai tamu, tetapi ingat, kami adalah Bangsa merdeka dan tidak menganut Syiah,” kata Hamka (Buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, th 2013, hal 139).
Sumber Referensi Mukminun. Co.
---------------
Al-Buwaithi rahimahullah mengatakan,
سَأَلْتُ الشَّافِعِيَّ: أُصَلِّي خَلْفَ الرَّافِضِيِّ؟
قَالَ: لاَ تُصَلِّ خَلْفَ الرَّافِضِيِّ، وَلاَ القَدَرِيِّ، وَلاَ المُرْجِئِ
قُلْتُ: صِفْهُمْ لَنَا
قَالَ: مَنْ قَالَ: الإِيْمَانُ قَوْلٌ، فَهُوَ مُرْجِئٌ، وَمَنْ قَالَ: إِنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ لَيْسَا بِإِمَامَيْنِ، فَهُوَ رَافِضِيٌّ، وَمَنْ جَعَلَ المَشِيْئَةَ إِلَى نَفْسِهِ، فَهُوَ قَدَرِيٌّ
“Aku bertanya kepada asy-Syafi’i, “Apakah boleh bermakmum kepada orang Syi’ah Rafidhah?”
Beliau menjawab, “Tidak boleh bermakmum kepada orang Syi’ah Rafidhah, juga kepada orang Qadariyyah dan juga kepada orang Murji’ah.””
Al-Buwaithi mengatakan, “Tolong jelaskan kepada saya ciri-ciri mereka!”
Asy-Syafi’i menjawab, “Siapa yang berkeyakinan iman itu hanya ucapan, maka dia Murji’ah. Siapa saja yang berkeyakinan bahwa Abu Bakar dan Umar bukan dua orang imam kaum Muslimin, maka dia Syi’ah Rafidhah. Siapa saja yang berkeyakinan bahwa perbuatan hamba itu karena kehendak hamba, maka dia Qadariyah.” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 89)
Dari ar-Rabi’ rahimahullah, beliau mengatakan,
سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُوْلُ: لَمْ أَرَ أَحَداً أَشْهَدَ بِالزُّورِ مِنَ الرَّافِضَةِ
“Aku mendengar asy-Syafi’i mengatakan, “Tidak pernah aku melihat orang yang paling parah dalam bersaksi palsu selain Syi’ah Rafidhah.” (Siyar A’lamin Nubala, 10: 89)
Maka lihatlah, al-Imam Asy-Syafi’i mencela kaum Syi’ah Rafidhah, bahkan melarang salat bermakmum kepada mereka. Maka waspadalah terhadap makar kaum Syi’ah Rafidhah!!
Semoga Allah memberi taufik.
Sumber Referensi Muslim. Or. Id. Co.

Posting Komentar untuk "Akibat bangun kesiangan"